Refleksi
diri seorang mahasiswa semester tua dijurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
6 tahun belajar di SD,
3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA dan kini, 3 tahun yang sudah dijalani di
perkuliahan. Apa yang saya dapat?. Let’s check it out.
Selama ini saya merasa
saya sudah belajar betul. Namun, hakikatnya belum. Terutama belajar arti
kehidupan. Saya belum pernah merasa kepayahan sehingga saya harus menahan lapar
berhari-hari atau memakan satu menu yang hanya itu-itu saja setiap harinya.
Saya juga belum pernah merasa sulitnya menuntut ilmu. Karean selam ini yang
saya rasakan hanya aman dan enteng-enteng saja. Meskipun dalam seminggu saya
mendapat tugas 4 atau lebih dari dosen dan pelajaran yang berbeda. Tapi
ternyata belumlah seberapa dibandingkan dengan orang-orang diluar sana yang
menghabiskan hari-harinya untuk membaca dan bergulat dengan buku-buku setebal
kamus oxsford atau ensiklopedia dan buku tebal lainnya, yang berisi teori-teori
yang memusingkan_guna menambah ilmu dan menyelesaikan tugas-tugasnya.
Saya juga belum merasa
mandiri, karena saya masih dibiayai oleh orang tua. Meski saya sudah dapat
pekerjaan yang bisa dibilang cukup jika saya pandai mengatur hasilnya. Mungkin
cukup untuk hidup satu bulan, cukup bagi saya yang masih sendiri. Tapi
sayangnya saya tidak bisa berhemat dangan memenage uangnya. Bahkan seringkali
habis sebelum masanya.
Selama ini saya hanya belajar
dan belajar tanpa tahu apa tujuan saya mempelajarinya dan apa manfaatnya untuk
saya, yang saya tahu saya hanya ingin bisa. Tidak jelas “bisa” apa. Kebetulan
jurusan saya, yang katanya keren; yaitu pendidikan Bahasa Inggris. Tapi setelah
saya melihat pengalaman kebanyakan orang kuliah atau menuntut ilmu, ternyata
tidak segampang saya belajar. Bukan karena saya pintar. Tidak. Tetapi karena
sering sekali saya menganggap remeh semua yang saya buat, kuliah dan kehidapan
saya. Saya berfikir sudah cukup sampai ditaraf ini padahal saya baru memasuki
taraf satu yang sebelum nya nol besar. Rasanya saya telah membohongi orangtua
saya. IP atau IPK yang selama ini saya dapat hanyalah sekadar IPK belaka. 3,6
bukanlah angka yang fantastis, tidak naik bahkan turun. Ilmunya yang tidak
kekal dibenak saya. Mimpi melanjutkan study keluar negeri; sepertinya banyak
yang harus dibenahi. Kerena hidup diluar sana tanpa sanak saudara, materi yang
tidak cukup, dan ilmu yang terbatas tidaklah semudah yang dibayangkan.
Apalagi jika saya dapat
profesor yang kiler, sangat kritis dan objektif, mungkin saja sudah kandas
ditengah jalan . Benar adanya jika pertanyaan ini harus ditujukan kepada diri
sendiri; Apa yang sebenarnya mau saya buat dalam hidup ini? Untuk apa ilmu yang
saya tuntut? Dulu saya hanya menglobalkan jawaban ‘ saya ingin berbuat baik dan
menjadi lebih baik. Tapi itu harus saya spesifikkan lagi. Terkadang kita perlu
membuat pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri untuk menaikkan kapasitas diri.
Sehingga kita dapat membenahi hidup step by step.
Sunggu naif jika saya
ingin hal yang baik tapi saya tidak berusaha untuk menjadi lebih baik. Atau
saya ingin tampak hebat dan benar-benar hebat tapi saya diam, memalaskan diri
untuk melangkah selangkah lebih maju. Ternyata saya tipe orang yang banyak
teori tapi sedikit implementasi. Ilmu yang didapat belumlah seberapa. Sungguh
banyak yang tidak saya ketahui tentang ilmu dan kehidupan. Sekarang saya masih merasa bebas, masih bisa berlalai-lalai
dalam suatu hal, belum terkekang oleh waktu dan tuntutan. Tuntutan yang menekan
usaha saya. Bisa dibilang tuntutan yang menekankan saya untuk lebih berusaha
dan bekerja keras untuk menjadi hebat
dan sukses meski defenisi keduanya bagi setiap orang itu berbeda-beda.
Saya tergolong orang yang
santai dalam bekerja dan belajar. Mengerjakan tugas seadanya tanpa ingin
memperbaikinya karena nilai yang didapat sudah cukup memuaskan tanpa perlu
mempertanyakan kembali ilmu tersebut pada diri saya. Apa saya sudah betul-betul
paham atau tidak. Itu tidak penting, yang penting nilai saya tidak
mengecewakan. Sungguh penilaian seorang yang sombong. Baru saya sadari sekarang
setelah 3 tahun lamanya saya duduk dibangku perkuliahan bahwa ilmu yang selam
ini saya tuntut telah lari entah kemana. Ilmu baru seujung kuku dan tidak ada yang istimewa
dari pengetahuan saya. Ya, itu dikarenakan saya punya sifat jelek yaitu cepat
merasa puas dengan hasil yang sudah digapai tanpa mau mengevaluasinya lagi atau
melejitkannya kembali.
Saya masih merasa jalan
ditempat. Grafik pembelajaran dari awal kuliah hingga sekarang hanya naik
sekitar 30/50% saja. Karenanya saya tidak pernah berani mengambil resiko yang
lebih dan menantang dalam hidup saya. Penyesalan pun datang namun sudah
terlambat. Ya, memang penyesalan itu datang terlambat karena jika ia datang
diawal pasti namanya bukan penyesalan. Menyesali kesukaan saya dan hobi saya.
Memang saya suka membaca tapi bacaan-bacaannya kurang bermutu, saya hanya ingin
buku yang ringan sehingga asyik untuk dikonsumsi otak saya. Buku-buku yang
berbau ilmiah atau bacaan-bacaan yang berat, saya kurang berminat karena otak
saya tidak dapat mencernanya dengan sempurna. Oleh sebab itu tidak ada hasil
yang mumpuni untuk diri saya sendiri.
Sekarang saya harus
belajar untuk terus membaca dan meminati buku-buku yang menurut saya sulit
dicerna, agar cara berfikir saya lebih maju. Tidak boleh lagi ada kata-kata
sulit, malas, dan menyerah dalam kamus hidup. Bodoh memang, tidak pernah ingin
mencoba hal yang baru, tidak pernah mau mengambil kesempatan, tidak pernah mau
mencoba sesuatu yang lebih pahit guna mengkualitaskan diri dan melejitkan
potensi diri. Bodoh memang, tidak mau membenah diri, tidak mau bergerak
selangka lebih maju. Bodoh memang saya tidak pernah mencoba menuliskan ide-ide
ataupun pendapat saya. Biasanya ide dan
pendapat itu hanya jadi teman gumam saya saja.
Meski sudah terlambat
dari teman-teman yang lain. Yang sudah go on terlebih dahulu. saya harus tetap
berlari, membenahi diri, belajar hal yang baru, mengkualitaskan bacaan.
Meningkatkan kapasitas diri dan mutu hidup saya. Saya tiak bisa membenarkan
yang sudah lalu namun terus belajar dari kesalahan yang lalu untuk tidak
terualang kebodohan yang kedua kalinya. Go to the next dream. Don’t talk more,
but act to reach the dream. Because if talk more, no act, it’s nonesense.
Banda Aceh, 18 september 2016
oleh: elfimaulani
Tulisannya memotivasi sobat.
BalasHapusTp akan lbh santai dibca bila paragraf tidak terlalu panjg :).
Banyak pengulangan kata.
Semngat beljr menulis :)
Tulisannya memotivasi sobat.
BalasHapusTp akan lbh santai dibca bila paragraf tidak terlalu panjg :).
Banyak pengulangan kata.
Semngat beljr menulis :)