Selasa, 27 Desember 2016
Tarbiyah
Terimakasih Tuhan. Engkau telah mempertemukanku dengan orang-orang penuh iman ini dan menyjukkan. kita bertemu karena Allah dan kita berpisah jua karena Allah. sekian lama aku berada di jalan dakwah bersama kalian terlebih bersama Murabbiku tercinta, yang lembut dan penuh cinta. tak bosan untuk terus mengingatiku dan memberiku nasehat. Membuat ku tak bisa melepaskan dekapan ukhuwah yang hangat ini.
Sungguh indah rasanya terus bergandengan tangan meneruskan perjuangan bersama mereka. Teman-teman Atthairah cintaku. Disana ada murabbiku yang penuh kasih sayang, membina tanpa lelah, semoga Allah balas dengan syurgaNya. Ada sahabat-sahabatku, martini yang super cerewet dan tak mau kalah tapi ngangenin. Ada Asfirah yang lembut tapi juga tegas. Ada ulfa yang kece abis tapi tetap santun. Ada siska yang cantik dan juga ramah. Ada Nurul fitri yang manis dan pintar. Ada wilda yang baik dan kalem, ada kak Ariyana yang kepo plus imut. lalu ada kak oja yang perkasa (tapi jangan salah k' oja pintar mengurus rumah dan seorang penulis).
Macam ragam memang, tapi kita tetap satu hati, satu tujuan, satu tekad yaitu mencari keridhoan Allah. Terus berusaha memperbaiki diri dan mencoba untuk tetap berada dijalan dakwah ini.
Murabbiku..
Ditengah redupnya hati
kau datang meneranginya
Disaat aku mulai lelah
kau beri wejangan yang menentramkan
Dikala Aku kehilangan
kau hangatkan aku dengan dekapan ukhuwahmu
kau basuh aku dengan siraman nasihatmu
kau peluk aku erat hingga akupun tak ingin pergi.
Teman-temanku
kalian penguatku
kalian penyadarku
kalian pengingatku
kalian penyemangatku
Ku temukan cinta dan rindu yang membelaiku lembut penuh mesra seraya berkata ISTIQOMAHlah dalam DAKWAH ini., meski perjuangan masih panjang, namun tetaplah bertahan dan bersiap siagalah.
EAP II
Reading Comprehension for Older Readers
by Sharon Vaughn an Meaghan Edmosds
vol.41. No.3, January 2006
This Journal that overview of a multifariousness comprehension strategy for older reader to get meaning from text. This journal also useful for assisting students in organizing key concepts, vocabulary, and information from text. When reading, we need to able to read comprehension. So that the reader can get meaning from written text.
Reading to learn is a struggle for many students especially students with learning disabilities ( LD: Bryant, Vaughn, Linan-thomson, ugel & Hamff 2000; Gestren, Fuchs, Wiliiam & Baker 2001)
As a teacher should know lucky and how comprehension lucky. So that, it can Help teacher plan instruction that meets students needs.
According to Carlisle & Rice, 2002; National Institute for
Literacy, 2001; National Reading Panel, 2000. that there are some barriers to understanding reading material that should we know, they are:
Literacy, 2001; National Reading Panel, 2000. that there are some barriers to understanding reading material that should we know, they are:
• decoding words, including structural analysis;
• reading text with adequate speed and accuracy
(fluency);
• understanding the meanings of words;
• relating content to prior knowledge;
• applying comprehension strategies; and
• monitoring understanding
• reading text with adequate speed and accuracy
(fluency);
• understanding the meanings of words;
• relating content to prior knowledge;
• applying comprehension strategies; and
• monitoring understanding
So, there are some strategies that's provide readings comprehension to enhance students understanding of text. first strategies is Collaborative Strategies Reading (CSR). Here are four strategies students as part of CSR:
1. Preview. (make the student recall what they already known about the topic and guess what the passage might be about),
2. Click and Clunk ( identifying difficult words and concepts in
the passage and using fix-up strategies when the text
does not make sense)
3. Get the gist (during reading, restate the most important
idea in a paragraph or section)
the passage and using fix-up strategies when the text
does not make sense)
3. Get the gist (during reading, restate the most important
idea in a paragraph or section)
4. Wrap-up (after reading, summarize what has been
learned and generate questions).
learned and generate questions).
Second strategies is Graphic Organizers. this strategies like a representation diagrams or outline that assists students in organizing prior knowledge. reflecting on key concepts and vocabulary and organizing what they learned from reading text. Graphic organizers include such as practices as semantic mapping, semantic feature analysis, cognitive maps, story maps, advanced organizers, visual and Venn diagram.
This journal provide the strategies to understanding comprehension, this appropriate just for a student who have difficulties in reading comprehension but not to the special need students that who have disabilities with their ability or brain to input some lesson or anything.
EAP II resume of Assessing English Language Learners for a Learning Disability or a language Issue
Assessing English Language Learners for a Learning Disability or a language Issue
by Sarah Maria Fisher
Teacher should know about their English Language Learners (ELLs) who have difficulty with learning English. Teacher also awareness of their English Language Learners backgrounds and the expected progress of language learning then offer them the help that is needed.
English Language Learners luck in resource to test the ELLs in their L1 for learning disabilities. as a result, these learning disabled learners will continue to have difficulties,
According to this journal, this journal study about diagnosed student learning disabilities and decide is it learning disabilities or language issue. As soon as students with learning disabilities is diagnosed, it's better. so that, the treatment can designed for the student who have learning disabilities to English learner or they will have in overcoming. In addition, some teacher who are not trained to understand how second language learning takes place may hing that the ELL is show learner or just was not yet acquired enough English.
Since, learning disabilities are best treated earlier rather than later, it is important that all teacher involved with ELL students be aware of how they are coming along in their learning. It is also helpful to test Ells in their L1 to see if a learning disability exists in the L1. Teacher can obtain more background information regarding an ELL's diagnosis wil allow the teacher and student to make the needed adjustments in teaching style and learning style (Fisher 2009:18)
source: https://www.hpu.edu/CHSS/English/TESOL/ProfessionalDevelopment/200980TWPfall09/tesolwpssvol7issue2_Fall09/7_2Fisher.pdf
source: https://www.hpu.edu/CHSS/English/TESOL/ProfessionalDevelopment/200980TWPfall09/tesolwpssvol7issue2_Fall09/7_2Fisher.pdf
Kamis, 03 November 2016
Ia Takkan Menunggu Kesiapanku
Kematian akan datang dimana saja dan kapan saja. Maka
berhati-hatilah untuk melakukan sesuatu dan mempergunakan waktu yang dipunya.
Karena kita, sejatinya sedang menunggu tenunan kain kafan kita selesai untuk
dipakai menghadapnya. Lalu, apakah kita pantas sembari menunggu kain kafan
selesai ditenun dengan tertawa sepenuh mulut, makan sepenuh perut, dan mencari
hiburan sepenuh nafsu? Sudah datang kepada kita kabar bahwa mati tak menunggu
kita taubat, mati tak melihat usia, mati bisa datang kapan saja dan untuk siapa
saja.
Allah Berfiman dalam Qur’an surat Al-Ankabut [29]:57 yang
berbunyi ;
“ Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati”
Tegas Allah katakan semua makhluk yang benyawa pasti akan
mendapatkan kematian. Namun kita seolah tuli akan berita ini. Tetap saja tidak
menyadari dan terus saja hidup memenuhi nafsu.
Sesungguhnya manusia itu lalai, hingga tiba saatnya ia
menghadap Allah, lalu dia meminta untuk dihidupkan kembali kedunia hanya untuk
bersujud kepada Allah. Tapi apalah daya dan upaya waktu takkan pernah terulang
kembali walau sedetik.
Kita harus menanamkan
pada diri kita bahwasanya kita hidup didunia hanya mampir sebentar. Kita akan
kembali kepada Allah. Namun, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk
menghadap Allah?
Mari kita bijak menghadapi hidup, karena Rasulullah
bersabda: “ Orang yang pintar itu adalah oarng yang selalu mengingat kematian”.
Sebab dengan mengingat kematian akan
menyadarkan kita dari kelalaian kita selama ini sehingga hati kita menjadi
lembut.
Sa’id ibn Jubair berkata: “ Seandainya mengingat kematian
hilang dari ku, aku khawatir hatiku akan rusak”.
Saya pernah mendapat sebuah nasehat tentang mengingat
kematian. Faedah apabila kita mengingat kampung akhirat dan kematian maka kita
akan mendapatkan semangat dalam beribadah, dan membaguskannya karena merasa
bahwa amal masih sedikit dan banyak dosa, barang kali ini ibadah terakhir kita,
segera dalam taubat atau tidak menunda-nunda untuk bertaubat, selalu bersyukur
dan Qana’ah dengan rezeki dari Allah.
Bagaimana dengan kita, sudah siapkah kita menghadap kematian
yang bisa datang kapan saja dan dimana saja? Akankah kita mati dalam keadaan husnul khatimah?
Wallahu’alam.
Kamis, 22 September 2016
Judulnya Itu sesuatu banget
MENJADI ORANG TUA YANG DIRINDUKAN
Dua
hari yang lalu, saya mengikuti sebuah seminar yang kebanyakan dihadiri oleh
para orang tua. Seminar itu berjudul ‘Home Education’ dengan tema “Menjadi
Orang Tua yang di Rindukan”. Meskipun saya belum menjadi orang tua, menurut
saya hal-hal yang menyangkut pengetahuan tentang parenting seperti ini wajib
juga kita ketahui sebagai calon orang tua. Sebenarnya seminar ini diadakan
selama dua hari, dan saya sangat menyesal tidak ikut dihari pertama, yang
temanya juga menarik yaitu “Mengembangkan Minat Dan Bakat Anak Sesuai Dengan
Fitrah Penciptaannya”. Dikarenakan saya terlambat tahu infonya. Bukan sebuah
kebetulan saya menghadirinya, karena saya sudah lama berkeinginan untuk ikut
seminar-seminar yang berbau parenting, sebab saya jadi punya wawasan tentang
bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak saya nanti. Bagaimana
menjadi orang tua yang dirindukan? bagaimana menjadi orang tua yang sukses
mendidik anak-anak yang taat? Peran seorang ibu apa, peran ayah gimana, semua
itu dikupas oleh pemateri yang luar biasa dan humoris, beliau seorang konselor
anak, keluarga dan pernikahan. Beliau adalah Ustad Bendri Jaisyurahman.Lc.
Oleh karena itu, saya
ingin berbagi ilmu yang telah saya
dapatkan. Meski tak sesempurna pemateri yang menyampaikan ilmu tersebut.
Mungkin banyak penambahan-penambahan argumen saya. Karena saya tulis hanya
poin-poin pentingnya saja. Sedangkan penjelasannya bisa dipakai dengan bahasa
sendiri. Dan mungkin tulisan ini akan panjang sekali. Semoga bermanfaat untuk
kita bersama.
Banyak orang tua yang
ingin anaknya hebat, patuh, berbudi pekerti baik dan soleh-solehah. Tapi tidak
mau peduli dan terkadang mengabaikan hal-hal sepele. Seperti; pamitan, memeluk,
mencium, meminta pendapat, dan sebagainya. kebanyakan orang tua berfikir bagaimana
kebutuhan anak saya terpenuhi, Pendidkannya, makannya, bajunya dsbgnya dsbgnya,
tanpa ingin mengetahui ‘apa yang sesungguhnya anak saya butuhkan’. Sehingga
banyak anak yang kurang kasih sayang semenjak kecil, atau kurang kasih sayang
semenjak anaknya tumbuh remaja, lalu timbullah masalah kenakalan-kenakalan yang
bermula dari rumahnya. Jadi peran kedua orang tua itu sangat penting dalam
perkembangan dan pertumbuhan anaknya agar anaknya tidak mencari kasih sayang
ditempat lain.
Selain itu saya jadi
tahu, peran seorang ayah dalam pertumbuhan anak-anaknya itu sangat dibutuhkan.
Jadi, ayah tidak hanya mencari nafkah dan memimpin saja, namun juga berperan
untuk menjadikan rumah tangganya harmoni dan penuh cinta. Ayah yang penyayang
dan bijaksana seperti Rasulullah. Saw. Juga seperti Ibrahim kepada anaknya
Ismail. Mereka saling punya keterikatan hati. Ketika Ismail akan di kurbankan,
Ibrahim dengan bijak menanyakan terlebih dahulu pendapat Ismail. Lalu ismail
menjawab dengan taat dan cintanya kepada Allah dan ayahnya; “silahkan ayah jika
ini perintah Allah”. Meski mereka jarang bertemu tapi Ismail mengerti bahasa
kode2an yang diberikan ayahnya. Tentang mengganti palang pintu rumah ismail, (
bagi yang belum tahu kisah itu, ada baiknya baca kisah mereka dahulu). Maka
disini, keterikatan hati seorang anak kepada orang tuanya itu penting, karena
keterikatan hati nanti akan tumbuh rindu jika berjauhan. Contohnya saja, banyak
dari kita yang meskipun sudah bisa hidup mandiri, tapi kita tetap rindu pada
masakan ibu kita, sikap diamnya ayah kita dan tentu ayah, ibu akan tetap dihati
meski berjauhan. Itulah contoh keterikatan hati.
Jadi, apa kiat menjadi
orang tua yang dirindukan? Yuk dibaca kiat-kiatnya.
Kiat pertama.
Senantiasa berfikir dan beperasaan positif.
Maksudnya begini,
orangtua harus senantiasa berfikir bagaimana cara menghadapi anaknya ketika
sedang rewel atau bertingkah, banyak orangtua yang tidak sabar sehingga jalan
satu-satunya adalah mendaratkan pukulan atau memarahi dan membentaknya. Itu
tidak boleh terjadi karena emosi orang tua mempengaruhi kedekan anak. Emosi
positif itu ibarat taman, anak akan mendekat jika taman itu terawat. Orang tua
harus banyak mempelajari pola tingkah anak. Mengenali diri dan memperbaiki.
Jika ayah, atau ibu sedang punya masalah diluar ketika berhadapan dengan anak
hilangkan masalah itu sementara. Jadilah orang tua yang bijak.
Kiat kedua. Jadikan
anak prioritas.
Banyak dari kita yang
mampu bersabar dan menahan amarah,
dengan orang lain ketimbang dengan anak-anak dan kerabat dekat. Jadi
jika kita mampu bersabar keorang lain, maka anak harus jadi prioritas
kesabaran. Belajarlah membuat emosi stabil. Sebagai orang tua, manfaatkan masa
kecil anak, karena itu tidak akan teulang. Nanti jika sudah tua, kita pasti
merindukan kenakalan dan kelucuan anak-anak kita semasa kecilnya.
Terkadang terharu mengingat ayah ibu kita menceritakan
kembali masa-masa kecil kita dahulu. Itu yang saya rasakan jika kami telah
berkumpul bersama. Ayah dan ibu saya seperti tidak pernah bosan menceritakan
kenakalan dan kelucuan anak-anaknya semasa kecil. Dari gurat matanya, tampak
kerinduan yang mendalam. Sungguh mengharukan sekali.
Oke, back to the point.
Kiat ketiga. Manajemen waktu.
Untuk seorang ibu yang
telah seharain mengurus rumah, mengurus keperluan suami dan anak butuh waktu
sendiri ( me time). Untuk selalu menjaga keharmonisan dan keromantisan bersama
pasangan butuh waktu berduaan (couple time) jauh dari hiruk pikuk anak-anak
untuk sementara. Untuk tetap menjaga keharmonisan keluarga maka butuh waktu untuk
kelurga ( family time) dan social time, jika ada waktu luang ajak anak-anak
bersosial jauhkan mereka dari TV dan gadjet. Sehingga meraka tahu dengan
lingkungannya.
Kiat keempat. Skill
dasar.
Sebagai seorang ibu
atau calon istri dan ibu harus punya sekill dasar, diantaranya 4 M;
- - Menulis. Ini perlu untuk menyeimbangkan/menstabilkan emosi wanita, karena fitrah wanita menghabiskan 20.000 kata perhari. Maka daripada menggosip, baik jika dialihkan kepada menulis. Maka dari itu wanita harus punya buku diary.
- - Memasak. Ya, meskipun wanita tidak diwajibkan memasak tapi wanita harus punya skill ini, supaya suami dan anak-anaknya jadi betah dirumah dan gak cari makan ditempat lain.
- - Memijat. Ini skill yang juga tidak boleh dilupakan. Karena nanti ia bisa memijat anak-anaknya dan suaminya, karena sentuhan pijatan itu akan selalu dikenang, jika pijatannya enak, tapi jika enggak maka jangan coba-coba untuk memijat. Maka wanita perlu belajar memijat. Saya jadi ingat pijatan-pijatan ibu saya ketika saya sedang sakit. Ibu suka melumuri saya dengan minyak-minyakan dan mulai memijat tubuh saya, dan ajaib, itu manjur. (Manjur mebuat saya jadi kepingen dipijat terus, Hihi).
- - Mendengar. Kebanyakan wanita suka didengarin tapi gak mau mendengar. Maunya omongan dan curhatan dia terus yang dindengar, sehingga yang mendengar tidak bisa berkomentar, meskipun kupingnya sudah pegal mendengar curhatannya. Jadi wanita gak boleh egois, belajarlah mendengar sehingga nanti ketika sudah menikah, kita sebagai ibu, ibu yang bijak mampu mendengar keluhan dan curhatan anaknya dan mendengarkan keluh kesah suaminya. (Duuhh, harmoninya jika mengenang suami istri yang saling mau mendengarkan keluh kesah masing-masing dan saling mencari solusi. Romantis.).
Skill dasar ini tidak
hanya harus dimilika oleh kaum wanita. Sebagai kaum laki-laki yang menjadi ayah
atau calon suami atau ayah perlu punya skill dasar, berikut skillnya.
- - Bermain
- - Bercerita
- - Menjelajah
Hal
itu perlu dimiliki ayah, agar ayah tetap dekat dengan anak-anaknya. Dan tentu
saja akan dirindukan oleh anak-anaknya. ( ohh, so sweetnya jika punya suami
yang begitu. Apalagi Rasulullah yang jadi teladan hidupnya yang selalu di
ikuti. Meneladani Rasulullah sebagai ayah, suami dan pemimpin yang luar biasa).
Kiat kelima. Merebut
golden moment.
Sebagai orang tua harus
mampu jadi orang tua yang piawai dalam melihat situasi anakny. Saat anak sedih,
saat anak sakit, saat anak unjuk prestasi dan kebolehannya dsbgnya. Belajar
bijak dalm mengambil keputusan dan tindakan. Sehingga anak nyaman da ingin
selalu didekat orang tuanya. Jika nanti jadi ayah atau ibu sering-seringlah
memeluk, mencium dan bermain dengan anak-anaknya. Karena anak-anak butuh
belaian dan perhatian seperti itu.
So, apa buah dari orang
tua yang dirindukaaaannn??? Let’s check it out.
Seperti
ismail yang akan dikurban, itu diabadikan dalam surat As-Saffat ayat 102. "Maka
ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim)
berkata, " Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Dia ismail menjawab,
" Wahai ayahku. Lakukanlah apa yang diperintahakan (Allah) kepadamu, insya
Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar".
Terpaksa
itu ada dua yaitu; terpaksa karena iman dan cinta, dan terpaksa karena takut.
Anak
yang terpaksa karena iman dan cinta contohnya Ismail. Sedang ciri-ciri anak
yang terpaksa karena takut. Biasanya gerakannya dan ekspresinya minimalis
terkadang itu dipengaruhi oleh banyak aturan dan tekanan. Dan matanya tak
berani menatap lawan bicara, ini efek karena sering ditakut-takuti.
Ini seperti kisah usamah bin zaid. Usamah adalah anak dari Zaid bin Tsabit yang menjadi anak angkat Rasulullah ( jika diceritakan panjang sekali). Intinya usamah hormat dan tahu diri ketika ia dimarahi oleh Rasulullah. Karena Usamah telah membunuh musuh pada saat perang. Yang ketika pedang dihunuskan, musuh tersebut langsung mengucap syahadat. dengan Pedenya ia melapor kepada Rasulullah. Rasulullah berkata bisakah kau belah hatinya untuk membuktikan kalau ia mengucapkan syahadat karena takut dibunuh? dengan mengulangnya hingga tiga kali. Usamah hanya tertunduk.
Di era cyber sekarang, jarang kita temui anak yang seperti Usamah, biasanya anak sekarang juga ikut marah kepada orang tuanya yang sednag memarahinya, dengan membanting pintu bahkan tidak pulang hingga berhari-hari. Kadang ada anak yang sampai mencaci maki orang tuanya sendiri dimedsos dengan kata-kata tidak pantas.
Maka
orang tua harus bisa masuk dalam privasi anaknya, sehingga orang tua tahu dan
bisa memberikan masukan dan mengarahkan yang benar untuk anaknya. Karean jika
tidak, anak akan mencari orang lain untuk menceritakan rahasianya. Sekarang itu
sangat lumrah kita dapatkan anak-anak curhat dengan temannya. Bahkan mencari
pacar untuk temannya bercerita dan sebagainya. Hal itu jangan smapai terjadi
karena akan berbahaya, bisa mempengaruhi kepribadian anak.
Karena
jika anak yang kurang deata dengan orang tuanya, mereka akan gamapang
dipengaruhi orang lain ketika ia tumbuh remaja.
Ketika
orang Tua telah menjadi magnet untuk anak-anaknya maka anak pun akan sulit
keluyuran diluar rumah dan akan selalu merindukan rumah. So, jadi tugas kita
yang akan jadi orang tua membuat anak-anak selalu rindu untuk pulang dan
menjadi magnet yang menarik mereka pulang kerumah.
Jika
anak laki-laki akan mencari istri yang kurang lebih seperti ibunya, mungkin
ibunya penyabar, penyayang, perhataian, pinter masak dsbgnya. Begitu juga anak
perempuan dia akan mencari suami yang kurang lebih seprti ayahnya. Yang
bertanggung jawab, tegas, penyayang dsbnya. Karena Ayah adalah cinta pertama
bagi anak perempuannya. Jadi anak prempuan yang dekat dengan ayah berpengaruh
terhadap dua hal:
I. Tidak
mudah jatuh cinta kepada sembarang lelaki saat ABG
II. Tidak
mudah menggugat cerai suami jika sednag konflik.
Minggu, 18 September 2016
Refleksi diri mahasiswa tua
Refleksi
diri seorang mahasiswa semester tua dijurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
6 tahun belajar di SD,
3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA dan kini, 3 tahun yang sudah dijalani di
perkuliahan. Apa yang saya dapat?. Let’s check it out.
Selama ini saya merasa
saya sudah belajar betul. Namun, hakikatnya belum. Terutama belajar arti
kehidupan. Saya belum pernah merasa kepayahan sehingga saya harus menahan lapar
berhari-hari atau memakan satu menu yang hanya itu-itu saja setiap harinya.
Saya juga belum pernah merasa sulitnya menuntut ilmu. Karean selam ini yang
saya rasakan hanya aman dan enteng-enteng saja. Meskipun dalam seminggu saya
mendapat tugas 4 atau lebih dari dosen dan pelajaran yang berbeda. Tapi
ternyata belumlah seberapa dibandingkan dengan orang-orang diluar sana yang
menghabiskan hari-harinya untuk membaca dan bergulat dengan buku-buku setebal
kamus oxsford atau ensiklopedia dan buku tebal lainnya, yang berisi teori-teori
yang memusingkan_guna menambah ilmu dan menyelesaikan tugas-tugasnya.
Saya juga belum merasa
mandiri, karena saya masih dibiayai oleh orang tua. Meski saya sudah dapat
pekerjaan yang bisa dibilang cukup jika saya pandai mengatur hasilnya. Mungkin
cukup untuk hidup satu bulan, cukup bagi saya yang masih sendiri. Tapi
sayangnya saya tidak bisa berhemat dangan memenage uangnya. Bahkan seringkali
habis sebelum masanya.
Selama ini saya hanya belajar
dan belajar tanpa tahu apa tujuan saya mempelajarinya dan apa manfaatnya untuk
saya, yang saya tahu saya hanya ingin bisa. Tidak jelas “bisa” apa. Kebetulan
jurusan saya, yang katanya keren; yaitu pendidikan Bahasa Inggris. Tapi setelah
saya melihat pengalaman kebanyakan orang kuliah atau menuntut ilmu, ternyata
tidak segampang saya belajar. Bukan karena saya pintar. Tidak. Tetapi karena
sering sekali saya menganggap remeh semua yang saya buat, kuliah dan kehidapan
saya. Saya berfikir sudah cukup sampai ditaraf ini padahal saya baru memasuki
taraf satu yang sebelum nya nol besar. Rasanya saya telah membohongi orangtua
saya. IP atau IPK yang selama ini saya dapat hanyalah sekadar IPK belaka. 3,6
bukanlah angka yang fantastis, tidak naik bahkan turun. Ilmunya yang tidak
kekal dibenak saya. Mimpi melanjutkan study keluar negeri; sepertinya banyak
yang harus dibenahi. Kerena hidup diluar sana tanpa sanak saudara, materi yang
tidak cukup, dan ilmu yang terbatas tidaklah semudah yang dibayangkan.
Apalagi jika saya dapat
profesor yang kiler, sangat kritis dan objektif, mungkin saja sudah kandas
ditengah jalan . Benar adanya jika pertanyaan ini harus ditujukan kepada diri
sendiri; Apa yang sebenarnya mau saya buat dalam hidup ini? Untuk apa ilmu yang
saya tuntut? Dulu saya hanya menglobalkan jawaban ‘ saya ingin berbuat baik dan
menjadi lebih baik. Tapi itu harus saya spesifikkan lagi. Terkadang kita perlu
membuat pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri untuk menaikkan kapasitas diri.
Sehingga kita dapat membenahi hidup step by step.
Sunggu naif jika saya
ingin hal yang baik tapi saya tidak berusaha untuk menjadi lebih baik. Atau
saya ingin tampak hebat dan benar-benar hebat tapi saya diam, memalaskan diri
untuk melangkah selangkah lebih maju. Ternyata saya tipe orang yang banyak
teori tapi sedikit implementasi. Ilmu yang didapat belumlah seberapa. Sungguh
banyak yang tidak saya ketahui tentang ilmu dan kehidupan. Sekarang saya masih merasa bebas, masih bisa berlalai-lalai
dalam suatu hal, belum terkekang oleh waktu dan tuntutan. Tuntutan yang menekan
usaha saya. Bisa dibilang tuntutan yang menekankan saya untuk lebih berusaha
dan bekerja keras untuk menjadi hebat
dan sukses meski defenisi keduanya bagi setiap orang itu berbeda-beda.
Saya tergolong orang yang
santai dalam bekerja dan belajar. Mengerjakan tugas seadanya tanpa ingin
memperbaikinya karena nilai yang didapat sudah cukup memuaskan tanpa perlu
mempertanyakan kembali ilmu tersebut pada diri saya. Apa saya sudah betul-betul
paham atau tidak. Itu tidak penting, yang penting nilai saya tidak
mengecewakan. Sungguh penilaian seorang yang sombong. Baru saya sadari sekarang
setelah 3 tahun lamanya saya duduk dibangku perkuliahan bahwa ilmu yang selam
ini saya tuntut telah lari entah kemana. Ilmu baru seujung kuku dan tidak ada yang istimewa
dari pengetahuan saya. Ya, itu dikarenakan saya punya sifat jelek yaitu cepat
merasa puas dengan hasil yang sudah digapai tanpa mau mengevaluasinya lagi atau
melejitkannya kembali.
Saya masih merasa jalan
ditempat. Grafik pembelajaran dari awal kuliah hingga sekarang hanya naik
sekitar 30/50% saja. Karenanya saya tidak pernah berani mengambil resiko yang
lebih dan menantang dalam hidup saya. Penyesalan pun datang namun sudah
terlambat. Ya, memang penyesalan itu datang terlambat karena jika ia datang
diawal pasti namanya bukan penyesalan. Menyesali kesukaan saya dan hobi saya.
Memang saya suka membaca tapi bacaan-bacaannya kurang bermutu, saya hanya ingin
buku yang ringan sehingga asyik untuk dikonsumsi otak saya. Buku-buku yang
berbau ilmiah atau bacaan-bacaan yang berat, saya kurang berminat karena otak
saya tidak dapat mencernanya dengan sempurna. Oleh sebab itu tidak ada hasil
yang mumpuni untuk diri saya sendiri.
Sekarang saya harus
belajar untuk terus membaca dan meminati buku-buku yang menurut saya sulit
dicerna, agar cara berfikir saya lebih maju. Tidak boleh lagi ada kata-kata
sulit, malas, dan menyerah dalam kamus hidup. Bodoh memang, tidak pernah ingin
mencoba hal yang baru, tidak pernah mau mengambil kesempatan, tidak pernah mau
mencoba sesuatu yang lebih pahit guna mengkualitaskan diri dan melejitkan
potensi diri. Bodoh memang, tidak mau membenah diri, tidak mau bergerak
selangka lebih maju. Bodoh memang saya tidak pernah mencoba menuliskan ide-ide
ataupun pendapat saya. Biasanya ide dan
pendapat itu hanya jadi teman gumam saya saja.
Meski sudah terlambat
dari teman-teman yang lain. Yang sudah go on terlebih dahulu. saya harus tetap
berlari, membenahi diri, belajar hal yang baru, mengkualitaskan bacaan.
Meningkatkan kapasitas diri dan mutu hidup saya. Saya tiak bisa membenarkan
yang sudah lalu namun terus belajar dari kesalahan yang lalu untuk tidak
terualang kebodohan yang kedua kalinya. Go to the next dream. Don’t talk more,
but act to reach the dream. Because if talk more, no act, it’s nonesense.
Banda Aceh, 18 september 2016
oleh: elfimaulani
Langganan:
Komentar (Atom)


