Minggu, 18 September 2016

Refleksi diri mahasiswa tua



Refleksi diri seorang mahasiswa semester tua dijurusan Pendidikan Bahasa Inggris.


6 tahun belajar di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA dan kini, 3 tahun yang sudah dijalani di perkuliahan. Apa yang saya dapat?. Let’s check it out. 
Selama ini saya merasa saya sudah belajar betul. Namun, hakikatnya belum. Terutama belajar arti kehidupan. Saya belum pernah merasa kepayahan sehingga saya harus menahan lapar berhari-hari atau memakan satu menu yang hanya itu-itu saja setiap harinya. Saya juga belum pernah merasa sulitnya menuntut ilmu. Karean selam ini yang saya rasakan hanya aman dan enteng-enteng saja. Meskipun dalam seminggu saya mendapat tugas 4 atau lebih dari dosen dan pelajaran yang berbeda. Tapi ternyata belumlah seberapa dibandingkan dengan orang-orang diluar sana yang menghabiskan hari-harinya untuk membaca dan bergulat dengan buku-buku setebal kamus oxsford atau ensiklopedia dan buku tebal lainnya, yang berisi teori-teori yang memusingkan_guna menambah ilmu dan menyelesaikan tugas-tugasnya. 
Saya juga belum merasa mandiri, karena saya masih dibiayai oleh orang tua. Meski saya sudah dapat pekerjaan yang bisa dibilang cukup jika saya pandai mengatur hasilnya. Mungkin cukup untuk hidup satu bulan, cukup bagi saya yang masih sendiri. Tapi sayangnya saya tidak bisa berhemat dangan memenage uangnya. Bahkan seringkali habis sebelum masanya. 
Selama ini saya hanya belajar dan belajar tanpa tahu apa tujuan saya mempelajarinya dan apa manfaatnya untuk saya, yang saya tahu saya hanya ingin bisa. Tidak jelas “bisa” apa. Kebetulan jurusan saya, yang katanya keren; yaitu pendidikan Bahasa Inggris. Tapi setelah saya melihat pengalaman kebanyakan orang kuliah atau menuntut ilmu, ternyata tidak segampang saya belajar. Bukan karena saya pintar. Tidak. Tetapi karena sering sekali saya menganggap remeh semua yang saya buat, kuliah dan kehidapan saya. Saya berfikir sudah cukup sampai ditaraf ini padahal saya baru memasuki taraf satu yang sebelum nya nol besar. Rasanya saya telah membohongi orangtua saya. IP atau IPK yang selama ini saya dapat hanyalah sekadar IPK belaka. 3,6 bukanlah angka yang fantastis, tidak naik bahkan turun. Ilmunya yang tidak kekal dibenak saya. Mimpi melanjutkan study keluar negeri; sepertinya banyak yang harus dibenahi. Kerena hidup diluar sana tanpa sanak saudara, materi yang tidak cukup, dan ilmu yang terbatas tidaklah semudah yang dibayangkan.
Apalagi jika saya dapat profesor yang kiler, sangat kritis dan objektif, mungkin saja sudah kandas ditengah jalan . Benar adanya jika pertanyaan ini harus ditujukan kepada diri sendiri; Apa yang sebenarnya mau saya buat dalam hidup ini? Untuk apa ilmu yang saya tuntut? Dulu saya hanya menglobalkan jawaban ‘ saya ingin berbuat baik dan menjadi lebih baik. Tapi itu harus saya spesifikkan lagi. Terkadang kita perlu membuat pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri untuk menaikkan kapasitas diri. Sehingga kita dapat membenahi hidup step by step.

Sunggu naif jika saya ingin hal yang baik tapi saya tidak berusaha untuk menjadi lebih baik. Atau saya ingin tampak hebat dan benar-benar hebat tapi saya diam, memalaskan diri untuk melangkah selangkah lebih maju. Ternyata saya tipe orang yang banyak teori tapi sedikit implementasi. Ilmu yang didapat belumlah seberapa. Sungguh banyak yang tidak saya ketahui tentang ilmu dan kehidupan. Sekarang saya masih merasa bebas, masih bisa berlalai-lalai dalam suatu hal, belum terkekang oleh waktu dan tuntutan. Tuntutan yang menekan usaha saya. Bisa dibilang tuntutan yang menekankan saya untuk lebih berusaha dan bekerja keras  untuk menjadi hebat dan sukses meski defenisi keduanya bagi setiap orang itu berbeda-beda.
Saya tergolong orang yang santai dalam bekerja dan belajar. Mengerjakan tugas seadanya tanpa ingin memperbaikinya karena nilai yang didapat sudah cukup memuaskan tanpa perlu mempertanyakan kembali ilmu tersebut pada diri saya. Apa saya sudah betul-betul paham atau tidak. Itu tidak penting, yang penting nilai saya tidak mengecewakan. Sungguh penilaian seorang yang sombong. Baru saya sadari sekarang setelah 3 tahun lamanya saya duduk dibangku perkuliahan bahwa ilmu yang selam ini saya tuntut telah lari entah kemana. Ilmu baru seujung kuku dan tidak ada yang istimewa dari pengetahuan saya. Ya, itu dikarenakan saya punya sifat jelek yaitu cepat merasa puas dengan hasil yang sudah digapai tanpa mau mengevaluasinya lagi atau melejitkannya kembali.
Saya masih merasa jalan ditempat. Grafik pembelajaran dari awal kuliah hingga sekarang hanya naik sekitar 30/50% saja. Karenanya saya tidak pernah berani mengambil resiko yang lebih dan menantang dalam hidup saya. Penyesalan pun datang namun sudah terlambat. Ya, memang penyesalan itu datang terlambat karena jika ia datang diawal pasti namanya bukan penyesalan. Menyesali kesukaan saya dan hobi saya. Memang saya suka membaca tapi bacaan-bacaannya kurang bermutu, saya hanya ingin buku yang ringan sehingga asyik untuk dikonsumsi otak saya. Buku-buku yang berbau ilmiah atau bacaan-bacaan yang berat, saya kurang berminat karena otak saya tidak dapat mencernanya dengan sempurna. Oleh sebab itu tidak ada hasil yang mumpuni untuk diri saya sendiri.
Sekarang saya harus belajar untuk terus membaca dan meminati buku-buku yang menurut saya sulit dicerna, agar cara berfikir saya lebih maju. Tidak boleh lagi ada kata-kata sulit, malas, dan menyerah dalam kamus hidup. Bodoh memang, tidak pernah ingin mencoba hal yang baru, tidak pernah mau mengambil kesempatan, tidak pernah mau mencoba sesuatu yang lebih pahit guna mengkualitaskan diri dan melejitkan potensi diri. Bodoh memang, tidak mau membenah diri, tidak mau bergerak selangka lebih maju. Bodoh memang saya tidak pernah mencoba menuliskan ide-ide ataupun  pendapat saya. Biasanya ide dan pendapat itu hanya jadi teman gumam saya saja. 
Meski sudah terlambat dari teman-teman yang lain. Yang sudah go on terlebih dahulu. saya harus tetap berlari, membenahi diri, belajar hal yang baru, mengkualitaskan bacaan. Meningkatkan kapasitas diri dan mutu hidup saya. Saya tiak bisa membenarkan yang sudah lalu namun terus belajar dari kesalahan yang lalu untuk tidak terualang kebodohan yang kedua kalinya. Go to the next dream. Don’t talk more, but act to reach the dream. Because if talk more, no act, it’s nonesense.

Banda Aceh, 18 september 2016
oleh: elfimaulani



2 komentar:

  1. Tulisannya memotivasi sobat.
    Tp akan lbh santai dibca bila paragraf tidak terlalu panjg :).
    Banyak pengulangan kata.
    Semngat beljr menulis :)

    BalasHapus
  2. Tulisannya memotivasi sobat.
    Tp akan lbh santai dibca bila paragraf tidak terlalu panjg :).
    Banyak pengulangan kata.
    Semngat beljr menulis :)

    BalasHapus