Kamis, 22 September 2016

Judulnya Itu sesuatu banget



 


MENJADI ORANG TUA YANG DIRINDUKAN
 

Dua hari yang lalu, saya mengikuti sebuah seminar yang kebanyakan dihadiri oleh para orang tua. Seminar itu berjudul ‘Home Education’ dengan tema “Menjadi Orang Tua yang di Rindukan”. Meskipun saya belum menjadi orang tua, menurut saya hal-hal yang menyangkut pengetahuan tentang parenting seperti ini wajib juga kita ketahui sebagai calon orang tua. Sebenarnya seminar ini diadakan selama dua hari, dan saya sangat menyesal tidak ikut dihari pertama, yang temanya juga menarik yaitu “Mengembangkan Minat Dan Bakat Anak Sesuai Dengan Fitrah Penciptaannya”. Dikarenakan saya terlambat tahu infonya. Bukan sebuah kebetulan saya menghadirinya, karena saya sudah lama berkeinginan untuk ikut seminar-seminar yang berbau parenting, sebab saya jadi punya wawasan tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak saya nanti. Bagaimana menjadi orang tua yang dirindukan? bagaimana menjadi orang tua yang sukses mendidik anak-anak yang taat? Peran seorang ibu apa, peran ayah gimana, semua itu dikupas oleh pemateri yang luar biasa dan humoris, beliau seorang konselor anak, keluarga dan pernikahan. Beliau adalah Ustad Bendri Jaisyurahman.Lc. 

Oleh karena itu, saya ingin berbagi  ilmu yang telah saya dapatkan. Meski tak sesempurna pemateri yang menyampaikan ilmu tersebut. Mungkin banyak penambahan-penambahan argumen saya. Karena saya tulis hanya poin-poin pentingnya saja. Sedangkan penjelasannya bisa dipakai dengan bahasa sendiri. Dan mungkin tulisan ini akan panjang sekali. Semoga bermanfaat untuk kita bersama.

Banyak orang tua yang ingin anaknya hebat, patuh, berbudi pekerti baik dan soleh-solehah. Tapi tidak mau peduli dan terkadang mengabaikan hal-hal sepele. Seperti; pamitan, memeluk, mencium, meminta pendapat, dan sebagainya. kebanyakan orang tua berfikir bagaimana kebutuhan anak saya terpenuhi, Pendidkannya, makannya, bajunya dsbgnya dsbgnya, tanpa ingin mengetahui ‘apa yang sesungguhnya anak saya butuhkan’. Sehingga banyak anak yang kurang kasih sayang semenjak kecil, atau kurang kasih sayang semenjak anaknya tumbuh remaja, lalu timbullah masalah kenakalan-kenakalan yang bermula dari rumahnya. Jadi peran kedua orang tua itu sangat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan anaknya agar anaknya tidak mencari kasih sayang ditempat lain.

Selain itu saya jadi tahu, peran seorang ayah dalam pertumbuhan anak-anaknya itu sangat dibutuhkan. Jadi, ayah tidak hanya mencari nafkah dan memimpin saja, namun juga berperan untuk menjadikan rumah tangganya harmoni dan penuh cinta. Ayah yang penyayang dan bijaksana seperti Rasulullah. Saw. Juga seperti Ibrahim kepada anaknya Ismail. Mereka saling punya keterikatan hati. Ketika Ismail akan di kurbankan, Ibrahim dengan bijak menanyakan terlebih dahulu pendapat Ismail. Lalu ismail menjawab dengan taat dan cintanya kepada Allah dan ayahnya; “silahkan ayah jika ini perintah Allah”. Meski mereka jarang bertemu tapi Ismail mengerti bahasa kode2an yang diberikan ayahnya. Tentang mengganti palang pintu rumah ismail, ( bagi yang belum tahu kisah itu, ada baiknya baca kisah mereka dahulu). Maka disini, keterikatan hati seorang anak kepada orang tuanya itu penting, karena keterikatan hati nanti akan tumbuh rindu jika berjauhan. Contohnya saja, banyak dari kita yang meskipun sudah bisa hidup mandiri, tapi kita tetap rindu pada masakan ibu kita, sikap diamnya ayah kita dan tentu ayah, ibu akan tetap dihati meski berjauhan. Itulah contoh keterikatan hati.

Jadi, apa kiat menjadi orang tua yang dirindukan? Yuk dibaca kiat-kiatnya.

Kiat pertama. Senantiasa berfikir dan beperasaan positif. 
      Maksudnya begini, orangtua harus senantiasa berfikir bagaimana cara menghadapi anaknya ketika sedang rewel atau bertingkah, banyak orangtua yang tidak sabar sehingga jalan satu-satunya adalah mendaratkan pukulan atau memarahi dan membentaknya. Itu tidak boleh terjadi karena emosi orang tua mempengaruhi kedekan anak. Emosi positif itu ibarat taman, anak akan mendekat jika taman itu terawat. Orang tua harus banyak mempelajari pola tingkah anak. Mengenali diri dan memperbaiki. Jika ayah, atau ibu sedang punya masalah diluar ketika berhadapan dengan anak hilangkan masalah itu sementara. Jadilah orang tua yang bijak.

Kiat kedua. Jadikan anak prioritas.
       Banyak dari kita yang mampu bersabar dan menahan amarah,  dengan orang lain ketimbang dengan anak-anak dan kerabat dekat. Jadi jika kita mampu bersabar keorang lain, maka anak harus jadi prioritas kesabaran. Belajarlah membuat emosi stabil. Sebagai orang tua, manfaatkan masa kecil anak, karena itu tidak akan teulang. Nanti jika sudah tua, kita pasti merindukan kenakalan dan kelucuan anak-anak kita semasa kecilnya. 

Terkadang  terharu mengingat ayah ibu kita menceritakan kembali masa-masa kecil kita dahulu. Itu yang saya rasakan jika kami telah berkumpul bersama. Ayah dan ibu saya seperti tidak pernah bosan menceritakan kenakalan dan kelucuan anak-anaknya semasa kecil. Dari gurat matanya, tampak kerinduan yang mendalam. Sungguh mengharukan sekali. 

Oke, back to the point. Kiat ketiga. Manajemen waktu.
        Untuk seorang ibu yang telah seharain mengurus rumah, mengurus keperluan suami dan anak butuh waktu sendiri ( me time). Untuk selalu menjaga keharmonisan dan keromantisan bersama pasangan butuh waktu berduaan (couple time) jauh dari hiruk pikuk anak-anak untuk sementara. Untuk tetap menjaga keharmonisan keluarga maka butuh waktu untuk kelurga ( family time) dan social time, jika ada waktu luang ajak anak-anak bersosial jauhkan mereka dari TV dan gadjet. Sehingga meraka tahu dengan lingkungannya.

Kiat keempat. Skill dasar.

        Sebagai seorang ibu atau calon istri dan ibu harus punya sekill dasar, diantaranya 4 M;


  • -          Menulis. Ini perlu untuk menyeimbangkan/menstabilkan emosi wanita, karena fitrah wanita menghabiskan 20.000 kata perhari. Maka daripada menggosip, baik jika dialihkan kepada menulis. Maka dari itu wanita harus punya buku diary.

  • -          Memasak. Ya, meskipun wanita tidak diwajibkan memasak tapi wanita harus punya skill ini, supaya suami dan anak-anaknya jadi betah dirumah dan gak cari makan ditempat lain.

  • -          Memijat. Ini skill yang juga tidak boleh dilupakan. Karena nanti ia bisa memijat anak-anaknya dan suaminya, karena sentuhan pijatan itu akan selalu dikenang, jika pijatannya enak, tapi jika enggak maka jangan coba-coba untuk memijat. Maka wanita perlu belajar memijat. Saya jadi ingat pijatan-pijatan ibu saya ketika saya sedang sakit. Ibu suka melumuri saya dengan minyak-minyakan dan mulai memijat tubuh saya, dan ajaib, itu manjur. (Manjur mebuat saya jadi kepingen dipijat terus, Hihi).

  • -          Mendengar. Kebanyakan wanita suka didengarin tapi gak mau mendengar. Maunya omongan dan curhatan dia terus yang dindengar, sehingga yang mendengar tidak bisa berkomentar, meskipun kupingnya sudah pegal mendengar curhatannya. Jadi wanita gak boleh egois, belajarlah mendengar sehingga nanti ketika sudah menikah, kita sebagai ibu, ibu yang bijak mampu mendengar keluhan dan curhatan anaknya dan mendengarkan keluh kesah suaminya. (Duuhh, harmoninya jika mengenang suami istri yang saling mau mendengarkan keluh kesah masing-masing dan saling mencari solusi. Romantis.).

Skill dasar ini tidak hanya harus dimilika oleh kaum wanita. Sebagai kaum laki-laki yang menjadi ayah atau calon suami atau ayah perlu punya skill dasar, berikut skillnya.

  • -          Bermain

  • -          Bercerita

  • -          Menjelajah


Hal itu perlu dimiliki ayah, agar ayah tetap dekat dengan anak-anaknya. Dan tentu saja akan dirindukan oleh anak-anaknya. ( ohh, so sweetnya jika punya suami yang begitu. Apalagi Rasulullah yang jadi teladan hidupnya yang selalu di ikuti. Meneladani Rasulullah sebagai ayah, suami dan pemimpin yang luar biasa).

Kiat kelima. Merebut golden moment. 

        Sebagai orang tua harus mampu jadi orang tua yang piawai dalam melihat situasi anakny. Saat anak sedih, saat anak sakit, saat anak unjuk prestasi dan kebolehannya dsbgnya. Belajar bijak dalm mengambil keputusan dan tindakan. Sehingga anak nyaman da ingin selalu didekat orang tuanya. Jika nanti jadi ayah atau ibu sering-seringlah memeluk, mencium dan bermain dengan anak-anaknya. Karena anak-anak butuh belaian dan perhatian seperti itu.
 
So, apa buah dari orang tua yang dirindukaaaannn??? Let’s check it out.

1.      Anak akan berusaha taat meskipun terpaksa.

Seperti ismail yang akan dikurban, itu diabadikan dalam surat As-Saffat ayat 102. "Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, " Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Dia ismail menjawab, " Wahai ayahku. Lakukanlah apa yang diperintahakan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar".

Terpaksa itu ada dua yaitu; terpaksa karena iman dan cinta, dan terpaksa karena takut.
Anak yang terpaksa karena iman dan cinta contohnya Ismail. Sedang ciri-ciri anak yang terpaksa karena takut. Biasanya gerakannya dan ekspresinya minimalis terkadang itu dipengaruhi oleh banyak aturan dan tekanan. Dan matanya tak berani menatap lawan bicara, ini efek karena sering ditakut-takuti.

2.      Anak tetap hormat meskipun dimarahi.
                Ini seperti kisah usamah bin zaid. Usamah adalah anak dari Zaid bin Tsabit yang menjadi anak angkat Rasulullah ( jika diceritakan panjang sekali). Intinya usamah hormat dan tahu diri ketika ia dimarahi oleh Rasulullah. Karena Usamah telah membunuh musuh pada saat perang. Yang ketika pedang dihunuskan, musuh tersebut langsung mengucap syahadat. dengan Pedenya ia melapor kepada Rasulullah. Rasulullah berkata bisakah kau belah hatinya untuk membuktikan kalau ia mengucapkan syahadat karena takut dibunuh? dengan mengulangnya hingga tiga kali. Usamah hanya tertunduk.

               Di era cyber sekarang, jarang kita temui anak yang seperti Usamah, biasanya anak sekarang  juga ikut marah kepada orang tuanya yang sednag memarahinya, dengan membanting pintu bahkan tidak pulang hingga berhari-hari.  Kadang ada anak yang sampai mencaci maki orang tuanya sendiri dimedsos dengan kata-kata tidak pantas. 

3.      Anak tidak menyimpan rahasia keada orangtunya.

Maka orang tua harus bisa masuk dalam privasi anaknya, sehingga orang tua tahu dan bisa memberikan masukan dan mengarahkan yang benar untuk anaknya. Karean jika tidak, anak akan mencari orang lain untuk menceritakan rahasianya. Sekarang itu sangat lumrah kita dapatkan anak-anak curhat dengan temannya. Bahkan mencari pacar untuk temannya bercerita dan sebagainya. Hal itu jangan smapai terjadi karena akan berbahaya, bisa mempengaruhi kepribadian anak.

4.      Orang Tua dijadikan rujukan dalam nialai dan prinsip.

           Karena jika anak yang kurang deata dengan orang tuanya, mereka akan gamapang dipengaruhi orang lain ketika ia tumbuh remaja. 

5.      Anak tidak betah keluyuran diluar rumah.

        Ketika orang Tua telah menjadi magnet untuk anak-anaknya maka anak pun akan sulit keluyuran diluar rumah dan akan selalu merindukan rumah. So, jadi tugas kita yang akan jadi orang tua membuat anak-anak selalu rindu untuk pulang dan menjadi magnet yang menarik mereka pulang kerumah.

6.      Orang Tua dijadikan referensi dalam mencari jodoh.

         Jika anak laki-laki akan mencari istri yang kurang lebih seperti ibunya, mungkin ibunya penyabar, penyayang, perhataian, pinter masak dsbgnya. Begitu juga anak perempuan dia akan mencari suami yang kurang lebih seprti ayahnya. Yang bertanggung jawab, tegas, penyayang dsbnya. Karena Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Jadi anak prempuan yang dekat dengan ayah berpengaruh terhadap dua hal:
I.       Tidak mudah jatuh cinta kepada sembarang lelaki saat ABG
II.    Tidak mudah menggugat cerai suami jika sednag konflik.


     Itulah sedikit ilmu yang bisa saya bagi untuk semuanya. Maaf jika terlalu panjang. Hehe. Semoga nanti kita akan menjadi orang tua yang akan selalu dirindukan. Mendapat jodoh yang penyayang, bisa membimbing, penyabar, dan peduli keluarga. Amiin..

Minggu, 18 September 2016

Refleksi diri mahasiswa tua



Refleksi diri seorang mahasiswa semester tua dijurusan Pendidikan Bahasa Inggris.


6 tahun belajar di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA dan kini, 3 tahun yang sudah dijalani di perkuliahan. Apa yang saya dapat?. Let’s check it out. 
Selama ini saya merasa saya sudah belajar betul. Namun, hakikatnya belum. Terutama belajar arti kehidupan. Saya belum pernah merasa kepayahan sehingga saya harus menahan lapar berhari-hari atau memakan satu menu yang hanya itu-itu saja setiap harinya. Saya juga belum pernah merasa sulitnya menuntut ilmu. Karean selam ini yang saya rasakan hanya aman dan enteng-enteng saja. Meskipun dalam seminggu saya mendapat tugas 4 atau lebih dari dosen dan pelajaran yang berbeda. Tapi ternyata belumlah seberapa dibandingkan dengan orang-orang diluar sana yang menghabiskan hari-harinya untuk membaca dan bergulat dengan buku-buku setebal kamus oxsford atau ensiklopedia dan buku tebal lainnya, yang berisi teori-teori yang memusingkan_guna menambah ilmu dan menyelesaikan tugas-tugasnya. 
Saya juga belum merasa mandiri, karena saya masih dibiayai oleh orang tua. Meski saya sudah dapat pekerjaan yang bisa dibilang cukup jika saya pandai mengatur hasilnya. Mungkin cukup untuk hidup satu bulan, cukup bagi saya yang masih sendiri. Tapi sayangnya saya tidak bisa berhemat dangan memenage uangnya. Bahkan seringkali habis sebelum masanya. 
Selama ini saya hanya belajar dan belajar tanpa tahu apa tujuan saya mempelajarinya dan apa manfaatnya untuk saya, yang saya tahu saya hanya ingin bisa. Tidak jelas “bisa” apa. Kebetulan jurusan saya, yang katanya keren; yaitu pendidikan Bahasa Inggris. Tapi setelah saya melihat pengalaman kebanyakan orang kuliah atau menuntut ilmu, ternyata tidak segampang saya belajar. Bukan karena saya pintar. Tidak. Tetapi karena sering sekali saya menganggap remeh semua yang saya buat, kuliah dan kehidapan saya. Saya berfikir sudah cukup sampai ditaraf ini padahal saya baru memasuki taraf satu yang sebelum nya nol besar. Rasanya saya telah membohongi orangtua saya. IP atau IPK yang selama ini saya dapat hanyalah sekadar IPK belaka. 3,6 bukanlah angka yang fantastis, tidak naik bahkan turun. Ilmunya yang tidak kekal dibenak saya. Mimpi melanjutkan study keluar negeri; sepertinya banyak yang harus dibenahi. Kerena hidup diluar sana tanpa sanak saudara, materi yang tidak cukup, dan ilmu yang terbatas tidaklah semudah yang dibayangkan.
Apalagi jika saya dapat profesor yang kiler, sangat kritis dan objektif, mungkin saja sudah kandas ditengah jalan . Benar adanya jika pertanyaan ini harus ditujukan kepada diri sendiri; Apa yang sebenarnya mau saya buat dalam hidup ini? Untuk apa ilmu yang saya tuntut? Dulu saya hanya menglobalkan jawaban ‘ saya ingin berbuat baik dan menjadi lebih baik. Tapi itu harus saya spesifikkan lagi. Terkadang kita perlu membuat pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri untuk menaikkan kapasitas diri. Sehingga kita dapat membenahi hidup step by step.

Sunggu naif jika saya ingin hal yang baik tapi saya tidak berusaha untuk menjadi lebih baik. Atau saya ingin tampak hebat dan benar-benar hebat tapi saya diam, memalaskan diri untuk melangkah selangkah lebih maju. Ternyata saya tipe orang yang banyak teori tapi sedikit implementasi. Ilmu yang didapat belumlah seberapa. Sungguh banyak yang tidak saya ketahui tentang ilmu dan kehidupan. Sekarang saya masih merasa bebas, masih bisa berlalai-lalai dalam suatu hal, belum terkekang oleh waktu dan tuntutan. Tuntutan yang menekan usaha saya. Bisa dibilang tuntutan yang menekankan saya untuk lebih berusaha dan bekerja keras  untuk menjadi hebat dan sukses meski defenisi keduanya bagi setiap orang itu berbeda-beda.
Saya tergolong orang yang santai dalam bekerja dan belajar. Mengerjakan tugas seadanya tanpa ingin memperbaikinya karena nilai yang didapat sudah cukup memuaskan tanpa perlu mempertanyakan kembali ilmu tersebut pada diri saya. Apa saya sudah betul-betul paham atau tidak. Itu tidak penting, yang penting nilai saya tidak mengecewakan. Sungguh penilaian seorang yang sombong. Baru saya sadari sekarang setelah 3 tahun lamanya saya duduk dibangku perkuliahan bahwa ilmu yang selam ini saya tuntut telah lari entah kemana. Ilmu baru seujung kuku dan tidak ada yang istimewa dari pengetahuan saya. Ya, itu dikarenakan saya punya sifat jelek yaitu cepat merasa puas dengan hasil yang sudah digapai tanpa mau mengevaluasinya lagi atau melejitkannya kembali.
Saya masih merasa jalan ditempat. Grafik pembelajaran dari awal kuliah hingga sekarang hanya naik sekitar 30/50% saja. Karenanya saya tidak pernah berani mengambil resiko yang lebih dan menantang dalam hidup saya. Penyesalan pun datang namun sudah terlambat. Ya, memang penyesalan itu datang terlambat karena jika ia datang diawal pasti namanya bukan penyesalan. Menyesali kesukaan saya dan hobi saya. Memang saya suka membaca tapi bacaan-bacaannya kurang bermutu, saya hanya ingin buku yang ringan sehingga asyik untuk dikonsumsi otak saya. Buku-buku yang berbau ilmiah atau bacaan-bacaan yang berat, saya kurang berminat karena otak saya tidak dapat mencernanya dengan sempurna. Oleh sebab itu tidak ada hasil yang mumpuni untuk diri saya sendiri.
Sekarang saya harus belajar untuk terus membaca dan meminati buku-buku yang menurut saya sulit dicerna, agar cara berfikir saya lebih maju. Tidak boleh lagi ada kata-kata sulit, malas, dan menyerah dalam kamus hidup. Bodoh memang, tidak pernah ingin mencoba hal yang baru, tidak pernah mau mengambil kesempatan, tidak pernah mau mencoba sesuatu yang lebih pahit guna mengkualitaskan diri dan melejitkan potensi diri. Bodoh memang, tidak mau membenah diri, tidak mau bergerak selangka lebih maju. Bodoh memang saya tidak pernah mencoba menuliskan ide-ide ataupun  pendapat saya. Biasanya ide dan pendapat itu hanya jadi teman gumam saya saja. 
Meski sudah terlambat dari teman-teman yang lain. Yang sudah go on terlebih dahulu. saya harus tetap berlari, membenahi diri, belajar hal yang baru, mengkualitaskan bacaan. Meningkatkan kapasitas diri dan mutu hidup saya. Saya tiak bisa membenarkan yang sudah lalu namun terus belajar dari kesalahan yang lalu untuk tidak terualang kebodohan yang kedua kalinya. Go to the next dream. Don’t talk more, but act to reach the dream. Because if talk more, no act, it’s nonesense.

Banda Aceh, 18 september 2016
oleh: elfimaulani