MENJADI ORANG TUA YANG DIRINDUKAN
Dua
hari yang lalu, saya mengikuti sebuah seminar yang kebanyakan dihadiri oleh
para orang tua. Seminar itu berjudul ‘Home Education’ dengan tema “Menjadi
Orang Tua yang di Rindukan”. Meskipun saya belum menjadi orang tua, menurut
saya hal-hal yang menyangkut pengetahuan tentang parenting seperti ini wajib
juga kita ketahui sebagai calon orang tua. Sebenarnya seminar ini diadakan
selama dua hari, dan saya sangat menyesal tidak ikut dihari pertama, yang
temanya juga menarik yaitu “Mengembangkan Minat Dan Bakat Anak Sesuai Dengan
Fitrah Penciptaannya”. Dikarenakan saya terlambat tahu infonya. Bukan sebuah
kebetulan saya menghadirinya, karena saya sudah lama berkeinginan untuk ikut
seminar-seminar yang berbau parenting, sebab saya jadi punya wawasan tentang
bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak saya nanti. Bagaimana
menjadi orang tua yang dirindukan? bagaimana menjadi orang tua yang sukses
mendidik anak-anak yang taat? Peran seorang ibu apa, peran ayah gimana, semua
itu dikupas oleh pemateri yang luar biasa dan humoris, beliau seorang konselor
anak, keluarga dan pernikahan. Beliau adalah Ustad Bendri Jaisyurahman.Lc.
Oleh karena itu, saya
ingin berbagi ilmu yang telah saya
dapatkan. Meski tak sesempurna pemateri yang menyampaikan ilmu tersebut.
Mungkin banyak penambahan-penambahan argumen saya. Karena saya tulis hanya
poin-poin pentingnya saja. Sedangkan penjelasannya bisa dipakai dengan bahasa
sendiri. Dan mungkin tulisan ini akan panjang sekali. Semoga bermanfaat untuk
kita bersama.
Banyak orang tua yang
ingin anaknya hebat, patuh, berbudi pekerti baik dan soleh-solehah. Tapi tidak
mau peduli dan terkadang mengabaikan hal-hal sepele. Seperti; pamitan, memeluk,
mencium, meminta pendapat, dan sebagainya. kebanyakan orang tua berfikir bagaimana
kebutuhan anak saya terpenuhi, Pendidkannya, makannya, bajunya dsbgnya dsbgnya,
tanpa ingin mengetahui ‘apa yang sesungguhnya anak saya butuhkan’. Sehingga
banyak anak yang kurang kasih sayang semenjak kecil, atau kurang kasih sayang
semenjak anaknya tumbuh remaja, lalu timbullah masalah kenakalan-kenakalan yang
bermula dari rumahnya. Jadi peran kedua orang tua itu sangat penting dalam
perkembangan dan pertumbuhan anaknya agar anaknya tidak mencari kasih sayang
ditempat lain.
Selain itu saya jadi
tahu, peran seorang ayah dalam pertumbuhan anak-anaknya itu sangat dibutuhkan.
Jadi, ayah tidak hanya mencari nafkah dan memimpin saja, namun juga berperan
untuk menjadikan rumah tangganya harmoni dan penuh cinta. Ayah yang penyayang
dan bijaksana seperti Rasulullah. Saw. Juga seperti Ibrahim kepada anaknya
Ismail. Mereka saling punya keterikatan hati. Ketika Ismail akan di kurbankan,
Ibrahim dengan bijak menanyakan terlebih dahulu pendapat Ismail. Lalu ismail
menjawab dengan taat dan cintanya kepada Allah dan ayahnya; “silahkan ayah jika
ini perintah Allah”. Meski mereka jarang bertemu tapi Ismail mengerti bahasa
kode2an yang diberikan ayahnya. Tentang mengganti palang pintu rumah ismail, (
bagi yang belum tahu kisah itu, ada baiknya baca kisah mereka dahulu). Maka
disini, keterikatan hati seorang anak kepada orang tuanya itu penting, karena
keterikatan hati nanti akan tumbuh rindu jika berjauhan. Contohnya saja, banyak
dari kita yang meskipun sudah bisa hidup mandiri, tapi kita tetap rindu pada
masakan ibu kita, sikap diamnya ayah kita dan tentu ayah, ibu akan tetap dihati
meski berjauhan. Itulah contoh keterikatan hati.
Jadi, apa kiat menjadi
orang tua yang dirindukan? Yuk dibaca kiat-kiatnya.
Kiat pertama.
Senantiasa berfikir dan beperasaan positif.
Maksudnya begini,
orangtua harus senantiasa berfikir bagaimana cara menghadapi anaknya ketika
sedang rewel atau bertingkah, banyak orangtua yang tidak sabar sehingga jalan
satu-satunya adalah mendaratkan pukulan atau memarahi dan membentaknya. Itu
tidak boleh terjadi karena emosi orang tua mempengaruhi kedekan anak. Emosi
positif itu ibarat taman, anak akan mendekat jika taman itu terawat. Orang tua
harus banyak mempelajari pola tingkah anak. Mengenali diri dan memperbaiki.
Jika ayah, atau ibu sedang punya masalah diluar ketika berhadapan dengan anak
hilangkan masalah itu sementara. Jadilah orang tua yang bijak.
Kiat kedua. Jadikan
anak prioritas.
Banyak dari kita yang
mampu bersabar dan menahan amarah,
dengan orang lain ketimbang dengan anak-anak dan kerabat dekat. Jadi
jika kita mampu bersabar keorang lain, maka anak harus jadi prioritas
kesabaran. Belajarlah membuat emosi stabil. Sebagai orang tua, manfaatkan masa
kecil anak, karena itu tidak akan teulang. Nanti jika sudah tua, kita pasti
merindukan kenakalan dan kelucuan anak-anak kita semasa kecilnya.
Terkadang terharu mengingat ayah ibu kita menceritakan
kembali masa-masa kecil kita dahulu. Itu yang saya rasakan jika kami telah
berkumpul bersama. Ayah dan ibu saya seperti tidak pernah bosan menceritakan
kenakalan dan kelucuan anak-anaknya semasa kecil. Dari gurat matanya, tampak
kerinduan yang mendalam. Sungguh mengharukan sekali.
Oke, back to the point.
Kiat ketiga. Manajemen waktu.
Untuk seorang ibu yang
telah seharain mengurus rumah, mengurus keperluan suami dan anak butuh waktu
sendiri ( me time). Untuk selalu menjaga keharmonisan dan keromantisan bersama
pasangan butuh waktu berduaan (couple time) jauh dari hiruk pikuk anak-anak
untuk sementara. Untuk tetap menjaga keharmonisan keluarga maka butuh waktu untuk
kelurga ( family time) dan social time, jika ada waktu luang ajak anak-anak
bersosial jauhkan mereka dari TV dan gadjet. Sehingga meraka tahu dengan
lingkungannya.
Kiat keempat. Skill
dasar.
Sebagai seorang ibu
atau calon istri dan ibu harus punya sekill dasar, diantaranya 4 M;
- - Menulis. Ini perlu untuk menyeimbangkan/menstabilkan emosi wanita, karena fitrah wanita menghabiskan 20.000 kata perhari. Maka daripada menggosip, baik jika dialihkan kepada menulis. Maka dari itu wanita harus punya buku diary.
- - Memasak. Ya, meskipun wanita tidak diwajibkan memasak tapi wanita harus punya skill ini, supaya suami dan anak-anaknya jadi betah dirumah dan gak cari makan ditempat lain.
- - Memijat. Ini skill yang juga tidak boleh dilupakan. Karena nanti ia bisa memijat anak-anaknya dan suaminya, karena sentuhan pijatan itu akan selalu dikenang, jika pijatannya enak, tapi jika enggak maka jangan coba-coba untuk memijat. Maka wanita perlu belajar memijat. Saya jadi ingat pijatan-pijatan ibu saya ketika saya sedang sakit. Ibu suka melumuri saya dengan minyak-minyakan dan mulai memijat tubuh saya, dan ajaib, itu manjur. (Manjur mebuat saya jadi kepingen dipijat terus, Hihi).
- - Mendengar. Kebanyakan wanita suka didengarin tapi gak mau mendengar. Maunya omongan dan curhatan dia terus yang dindengar, sehingga yang mendengar tidak bisa berkomentar, meskipun kupingnya sudah pegal mendengar curhatannya. Jadi wanita gak boleh egois, belajarlah mendengar sehingga nanti ketika sudah menikah, kita sebagai ibu, ibu yang bijak mampu mendengar keluhan dan curhatan anaknya dan mendengarkan keluh kesah suaminya. (Duuhh, harmoninya jika mengenang suami istri yang saling mau mendengarkan keluh kesah masing-masing dan saling mencari solusi. Romantis.).
Skill dasar ini tidak
hanya harus dimilika oleh kaum wanita. Sebagai kaum laki-laki yang menjadi ayah
atau calon suami atau ayah perlu punya skill dasar, berikut skillnya.
- - Bermain
- - Bercerita
- - Menjelajah
Hal
itu perlu dimiliki ayah, agar ayah tetap dekat dengan anak-anaknya. Dan tentu
saja akan dirindukan oleh anak-anaknya. ( ohh, so sweetnya jika punya suami
yang begitu. Apalagi Rasulullah yang jadi teladan hidupnya yang selalu di
ikuti. Meneladani Rasulullah sebagai ayah, suami dan pemimpin yang luar biasa).
Kiat kelima. Merebut
golden moment.
Sebagai orang tua harus
mampu jadi orang tua yang piawai dalam melihat situasi anakny. Saat anak sedih,
saat anak sakit, saat anak unjuk prestasi dan kebolehannya dsbgnya. Belajar
bijak dalm mengambil keputusan dan tindakan. Sehingga anak nyaman da ingin
selalu didekat orang tuanya. Jika nanti jadi ayah atau ibu sering-seringlah
memeluk, mencium dan bermain dengan anak-anaknya. Karena anak-anak butuh
belaian dan perhatian seperti itu.
So, apa buah dari orang
tua yang dirindukaaaannn??? Let’s check it out.
Seperti
ismail yang akan dikurban, itu diabadikan dalam surat As-Saffat ayat 102. "Maka
ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim)
berkata, " Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Dia ismail menjawab,
" Wahai ayahku. Lakukanlah apa yang diperintahakan (Allah) kepadamu, insya
Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar".
Terpaksa
itu ada dua yaitu; terpaksa karena iman dan cinta, dan terpaksa karena takut.
Anak
yang terpaksa karena iman dan cinta contohnya Ismail. Sedang ciri-ciri anak
yang terpaksa karena takut. Biasanya gerakannya dan ekspresinya minimalis
terkadang itu dipengaruhi oleh banyak aturan dan tekanan. Dan matanya tak
berani menatap lawan bicara, ini efek karena sering ditakut-takuti.
Ini seperti kisah usamah bin zaid. Usamah adalah anak dari Zaid bin Tsabit yang menjadi anak angkat Rasulullah ( jika diceritakan panjang sekali). Intinya usamah hormat dan tahu diri ketika ia dimarahi oleh Rasulullah. Karena Usamah telah membunuh musuh pada saat perang. Yang ketika pedang dihunuskan, musuh tersebut langsung mengucap syahadat. dengan Pedenya ia melapor kepada Rasulullah. Rasulullah berkata bisakah kau belah hatinya untuk membuktikan kalau ia mengucapkan syahadat karena takut dibunuh? dengan mengulangnya hingga tiga kali. Usamah hanya tertunduk.
Di era cyber sekarang, jarang kita temui anak yang seperti Usamah, biasanya anak sekarang juga ikut marah kepada orang tuanya yang sednag memarahinya, dengan membanting pintu bahkan tidak pulang hingga berhari-hari. Kadang ada anak yang sampai mencaci maki orang tuanya sendiri dimedsos dengan kata-kata tidak pantas.
Maka
orang tua harus bisa masuk dalam privasi anaknya, sehingga orang tua tahu dan
bisa memberikan masukan dan mengarahkan yang benar untuk anaknya. Karean jika
tidak, anak akan mencari orang lain untuk menceritakan rahasianya. Sekarang itu
sangat lumrah kita dapatkan anak-anak curhat dengan temannya. Bahkan mencari
pacar untuk temannya bercerita dan sebagainya. Hal itu jangan smapai terjadi
karena akan berbahaya, bisa mempengaruhi kepribadian anak.
Karena
jika anak yang kurang deata dengan orang tuanya, mereka akan gamapang
dipengaruhi orang lain ketika ia tumbuh remaja.
Ketika
orang Tua telah menjadi magnet untuk anak-anaknya maka anak pun akan sulit
keluyuran diluar rumah dan akan selalu merindukan rumah. So, jadi tugas kita
yang akan jadi orang tua membuat anak-anak selalu rindu untuk pulang dan
menjadi magnet yang menarik mereka pulang kerumah.
Jika
anak laki-laki akan mencari istri yang kurang lebih seperti ibunya, mungkin
ibunya penyabar, penyayang, perhataian, pinter masak dsbgnya. Begitu juga anak
perempuan dia akan mencari suami yang kurang lebih seprti ayahnya. Yang
bertanggung jawab, tegas, penyayang dsbnya. Karena Ayah adalah cinta pertama
bagi anak perempuannya. Jadi anak prempuan yang dekat dengan ayah berpengaruh
terhadap dua hal:
I. Tidak
mudah jatuh cinta kepada sembarang lelaki saat ABG
II. Tidak
mudah menggugat cerai suami jika sednag konflik.
